Sabtu, 05 November 2011

Hasil Resensi Buku Ilmu Pengetahuan

Gangguan Perilaku Makanan,  Mengancam Kehidupan Remaja
Data Buku
Judul Buku       : Obesitas dan Gangguan Perilaku Makanan Pada Remaja
Penulis             : Atikah Proverawati, SKM, MPH
Penerbit           : Nuha Medika, Cetakan I, Mei 2010
Tebal               : 140 halaman

Gangguan perilaku makanan sudah tidak asing di telinga remaja. Remaja merupakan tumpuan harapan bangsa, sehingga remaja harus memperhatikan kesehatannya dengan harapan mereka dapat menjadi generasi penerus yang mempunyai status kesehataan yang baik. Penyebab utama gangguan perilaku makanan adalah kaum muda yang beranjak dewasa.
Badan statistik juga telah menyebutkan bahwa para penderita utama dari gangguan perilaku makan adalah kaum muda yang beranjak dewasa. Faktor utamanya adalah perilaku makan pada remaja. Hal ini diakibatkan karena faktor psikologis, seperti stess, kesepian, konflik pribadi, depresi dan kebosanan.
Kini, strategi pencegahan dan penjelasan mengenai gangguan perilaku makanan yang menyebabkan berbagai penyakit pada manusia terutama remaja akan dikupas habis oleh Atikah Proverawati seorang dosen yang lahir di Tegal, 8 Oktober 1978. Atikah Proverawati merupakan dosen lulusan  Fakultas Kesehatan Masyarakat di Semarang pada tahun 2003 dan S2  Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Utama Gizi dan Kesehatan Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 2007. Sekarang Beliau mengajar di perguruan tinggi di Purwokerto mengampu mata kuliah ilmu gizi.
Buku yang berjudul “Obesitas dan Gangguan Perilaku Makanan Pada Remaja” merupakan buku keempat yang ditulis oleh Atikah Proverawati dan diterbitkan oleh Nuha Medika, Mei 2010. Pengarang ingin menunjukkan bahwa gangguan perilaku makanan yang merupakan hal sepele dapat mengakibatkan penyakit yang serius terutama pada remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Melalui ilmu yang telah diterimanya dari Fakultas Kesehatan, Atikah Proverawati mencoba untuk mengembangkan dan menorehkan ilmu yang dimilikinya dengan menulis buku ini. Buku ini diharapakan dapat menjadi panduan para remaja agar dapat menjaga perilaku makanannya. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan dan informasi yang dipaparkan secara jelas bagaimana gangguan perilaku makanan dapat terjadi pada remaja. Bab I dalam buku ini yang merupakan bagian pendahuluan akan menjelaskan Perubahan pada Masa Remaja dan Gangguan Makan pada Remaja. Bab II- Bab VIII akan menjelaskan berbagai gangguan yang dialami akibat perilaku makanan dan strategi penangannya.
Kelebihan buku ini adalah bahasa yang mudah di pahami dan dilengkapi dengan gambar. Dengan adanya gambar dan penjelasan yang detail, pembaca dapat dengan mudah memahaminya. Buku ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa maupun remaja yang membacanya.
Bagian menarik buku ini adalah Bab II–Bab VII  yang mulai menjelaskan bagaimana gangguan perilaku makanan pada remaja dapat mengakibatkan masalah serius bagi penderitanya dan Bab VIII yang membahas pengembangan prilaku makan yang sehat  semasa remaja.
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Ciri utama pada remaja, ditandai dengan adanya berbagai perubahan seperti perubahan fisik, perubahan intelektual, perubahan emosi, perubahan sosial dan perubahan moral. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja dapat berpengaruh terhadap kebiasaan makanannya. Masalah harga terjadi pada remaja putri ketika proses kenaikan berat badan, peningkatan lemak dalam tubuh, pertumbuhan tinggi badan, perkembangan payudara dan menstruasi yang pertama kali datang. Remaja sering kurang nyaman dengan pertumbuhan yang terjadi dalam dirinya, sedangkan di sisi lain mereka ingin berpenampilan baik sesuai impiannya atau meniru tokoh idolanya. Sehingga remaja sangat rentan terhadap gangguan makanan, seperti halnya remaja perempuan yang melakukan diet yang berlebih demi suatu tujuan, ini merupakan sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan oleh para remaja. Sedangkan pada remaja laki-laki yang memakai makanan suplemen agar ototnya tumbuh seperti orang dewasa atau tokoh idolanya.
Bagi sebagian remaja, gangguan makanan berkembang secara perlahan-lahan. Gangguan makanan ini sebenarnya sangat kompleks. Gangguan makanan merupakan masalah gizi yang sering timbul pada remaja pada saat ini. Gangguan makanan adalah gangguan makan yang membahayakan kesehatan fisik, emosional, atau sosial. Penyebab utama gangguan makan pada remaja adalah masalah psikologis, gangguan makan akan memberikan efek yang berat  sehingga mengakibatkan gangguan citra diri (body image) dan kematian, serta ketidak rasionalan dalam mengejar ukuran tubuh yang menjadi impiannya. Disini penulis benar-benar mengungkapkan bagaimana remaja sangat rentan terhadap gangguan perilaku makanan.
Gangguan makanan yang paling banyak terjadi antara lain, anorexia nervosa, bulimia nervosa, binge eating disorder, dan obesitas. Gangguan makanan yang mula muncul adalah anorexia nervosa. Anorexia nervosa berkembang pada tahap remaja awal dan akhir, antara 12-18 tahun, namun kemunculannya pada usia yang lebih awal. Anorexia nervosa adalah gangguan makanan yang ditandai dengan gangguan citra atau gambaran tubuh. Penderita ingin menjadi kurus karena kegemukan dianggap tidak menarik. Remaja ini berusaha untuk menghindari makanan agar tubuhnya menjadi kurus sesuai keinginannya. Penderita seringkali berbohong mengenai jumlah makanan yang mereka makan dan menyembuyikan kebiasaan muntah. Anorexia nervosa mengakibatkan remaja lebih depresi, rentan terhadap penyakit ( tidak dapat berfikir jernih, mudah tersinggung, rambut mudah rontok, anemia dan tekanan darah lemah)  dan menjadi gelisah. Penanganan yang bersifat menyeluruh dan berkesinambungan sangat dibutuhkan untuk menangani kasus ini, seperti terapi.
Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang memiliki karakteristik episode berulang untuk menelan makanan dalam jumlah besar, diikuti dengan penggunaan cara-cara yang tidak tepat untuk mencegah penambahan berat badan. Remaja yang menderita bulimia nervosa mempunyai obsesi tentang tubuh dan makanannya. Penderita memiliki dorongan untuk makan dengan porsi makanan yang besar untuk kemudian diikuti dengan memuntahkan kembali yang telah dimakannya dengan menggunakan obat pancahar diuretik. Meskipun penderita bulimia nervosa takut gemuk, menjadi seorang dengan kondisi berat badan dibawah normal bukan merupakan ciri khas tanda peringatan terjadinya bulimia. Pada umumnya, penderitanya memiliki berat badan normal atau overwight. Pengobatan bulimia nervosa dilakukan dengan terapi.
Binge eating disorder (gangguan makanan berlebih) adalah gejala makan berlebih selama 2 hari dalam seminggu selama 6 bulan berturut-turut dan dalam waktu yang singkat. Tanda atau gejalanya antara lain, makan sendirian karena merasa malu bila dilihat orang, merasa jijik, sedih, atau merasa bersalah setelah makan banyak dan kenaikan berat badan secara drastis. Perawatan dan pengobatan adalah cara yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan gangguan ini. Tujuan dilakukannya perawatan adalah untuk mengurangi binge eating, menjaga emosional dan bila diperlukan untuk mengurangi berat badan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kombinasi terapi dengan pengobatan akan lebih efektif daripada hanya dilakukan perawatan saja. Pencegahan yang dapat dilakuakan adalah hindari makan berlebih dan biasakan sarapan pagi.
Didalam buku ini penulis juga menjelaskan tentang obesitas. Obesitas atau yang biasa dikenal sebagai kegemukan, merupakan suatu masalah yang serius di kalangan remaja. Jadi obesitas adalah keadaan dimana seseorang memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan berat badan idealnya yang terjadi adanya penumpukan lemah ditubuhnya. Obesitas bukan hanya enak dipandang mata, namun merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas dapat menimbulkan beragam penyakit antara lain tekanan darah tinggi dan stroke. Penderita obesitas cenderung tidak dapat menahan lapar, dan selalu ingin makan apabila merasa lapar. Makanan cepat saji seperti burger, ayam goreng, dan kentang goreng dapat menyebabkan obesitas secara cepat, hal ini dikarenakan makanan tersebut memiliki kandungan lemak, garam dan kalori yang tinggi. Ada bebrapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi obesitas yaitu : Edukasi (memberi pelajaran), motivasi, pola makan yang sehat dan teratur ( dapat melakukan diet dengan cara yang sehat dan alami).
Bagian terakhir yang menarik dari buku ini adalah, adanya pengembangan perilaku makan yang sehat semasa remaja. Ketidakcukupan asupan gizi para remaja diakibatka karena banyak remaja melupakan dan melewatkan jam makan di luar rumah. Anjuran untuk menciptakan pola kebiasaan pangan yang baik bagi remaja adalah melakukan diet yang seimbang , diet sehat dan makan yang menyenangkan. Di dalam buku ini akan dijelaskan secara jelas dengan langkah-langkah yang dapat dilakuakan untuk menerapkan pola hidup sehat untuk remaja.
Setiap ada kelebihan, pasti ada kelemahan dan bukan berarti kelemahan adalah keburukan. Kelemahan buku ini adalah terdapat beberapa gambar yang tidak jelas dan cover yang kurang menarik minat pembaca. Tetapi kelemahan itu tertutupi dengan informasi yang disampaikan penulis di buku ini.
Setelah membaca buku ini, dapat diambil kesimpulan bahwa menjadi diri sendiri itu lebih baik dari pada menjadi orang lain yang artinya, saat ini banyak remaja yang mengorbankan dirinya (kesehatannya) demi memenuhi keinginannya menjadi seseorang yang sempurna dimata orang lain atau mengikuti gaya hidup artis idolanya. Masalah ini yang mengakibatkan banyak remaja yang mengalami gangguan perilaku makan akibat salah dalam menerapkan gaya hidup.
Buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada proses pembelajaran di beberapa institusi kesehatan, termasuk jurusan kebidanan, dimana terdapat mata kuliah Gizi pada Kesehatan Reproduksi dan buku ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa maupun remaja pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar